Sep
30
Mengupas Kata ” Mudik “
September 30, 2009 | Tagged lebaran | Leave a Comment
Entah kenapa akhir-akhir ini sedikit tertarik untuk menyelami akar kata dari istilah-istilah tertentu. Meski tidak menggunakan ilmu bahasa tertentu, lumayan cukuplah untuk sekedar memuaskan hati dan menjawab rasa penasaran yang terbersit di dada. Pada note sebelumnya, tepatnya di hari kedua lebaran, sempat saya mengupas secara ‘ngawur’ tentang perluasan turunan kata Lebaran. Meskipun ngawur, alhamdulillah respon yang muncul menunjukkan ada manfaat yang didapat pembacanya, walau tak seberapa.
Nah kali ini saya ingin mengulang prestasi yang sama. Mengacak-acak turunan kata sebuah istilah untuk disesuaikan dengan fenomena yang ada. Pastilah ada kesan memaksakan sebuah arti atau ‘takalluf’, tapi ini tidak lebih untuk memperluas makna istilah tersebut. Bahasa halusnya memang menyelami atau mengupas makna sebuah istilah. Bahasa kasarnya mungkin ‘memplesetkan’ sebuah istilah, agar klop dengan kondisi atau fenomenanya. Wallahu a’lam.
Mudik misalnya, menjadi fenomena tersendiri menjelang hari raya. Berbagai macam analisa telah banyak dikemukakan seputar aktifitas pulang kampung tahunan tersebut. Tahun 2009 ini saja, tercatat 36-juta orang mudik dengan berbagai sarana transportasi yang ada. Kemacetan jalan, angka kecelakaan dan korban yang jatuh di masa lebaran pun sudah banyak mengisi berita di hari-hari ini. Rasa-rasanya sudah banyak alasan bagi saya untuk ikut menganalisa istilah mudik tersebut.
Tentu saja istilah mudik sudah banyak dikenal orang berasal dari akar kata ‘udik’ yaitu kampung atau desa yg lawan katanya adalah kota. Ini seperti istilah arab ‘ badui’ sebagai lawan dari kata hadhory. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Sampai disinilah istilah mudik ini dipahami banyak orang, dan memang itu sudah cukup tepat menggambarkan fenomena yang ada di hadapan kita.
Yang menarik bagi saya, struktur tatanan kata ‘mudik’ sebenarnya sangat tidak aneh dalam bahasa arab. Mereka yang sempat belajar bahasa arab insya Allah akan mudah merasakan bahwa kata ‘mudik’ sangat mungkin berasal dari bahasa arab. Selintas kata mudik akan bisa dikategorikan dalam ism fa’il untuk kata dengan wazan (tata susun) af-‘a-la. Seperti istilah ‘murid’ yang jelas dari bahasa arab, dari kata arooda – yuriidu , sehingga murid berarti “ orang yang menginginkan (sesuatu)” dalam hal ini tentu saja menginginkan ilmu. Nama Tokoh HAM yang gugur “ Muniir”, juga jelas berasal dari kata anaaro-yuniiru, yang arti yang memberikan cahaya atau yang menerangi. Nah, dengan demikian kata ‘mudik’ juga –bisa jadi- berasal dari turunan bahasa arab juga. Apalagi kalau kita hubungkan dengan sejarah bahasa arab, pendatang arab yang sudah mendarah daging di Indonesia turun menurun. Belum lagi banyaknya kata-kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari serapan bahasa arab, rasa-rasanya kesimpulan sederhana itu tidak sepenuhnya asal-asalan. Insya Allah.
Jika kita coba cari padanan katanya (plesetannya-red) dalam bahasa Arab, akan kita temukan beberapa kemungkinan akar kata mudik sebagai berikut.
Pertama : Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “ yang memberikan cahaya atau menerangi”
Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’ atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Secara umum menerangi fenomena hari raya setiap tahunnya. Maka jadilah lebaran kita khususnya di Indonesia setiap tahun begitu meriah dan ramai. Bisa kita bandingkan dengan lebaran di negara yang lainnya, bisa jadi meriah dan ramai, tetapi tanpa mudik ia menjadi sesuatu yang relatif biasa-biasa saja. Lihat saja di kampung-kampung, kita bisa rasakan dengan mudah hidupnya suasana desa dengan kedatangan sanak saudaranya dari kota. Mobil-mobil banyak diparkir di pinggir jalan dengan plat B menandakan ada keluarga yang meramaikan hari raya kali ini. Mau tidak mau, suka tidak suka , inilah ‘cahaya’ yang menerangi suasan lebaran kita. Jika semua itu diniatkan untuk memeriahkan hari raya, tentu itu sebuah kenikmatan luar biasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “ dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar (agama) Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati “ (QS Al-Haj 32) .
Kedua : Mudik dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “ yang menghilangkan “
Analisa selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut. Mereka ingin menghilangkan semua beban kerinduan akan kampung halaman, dan itu semua tidak akan terpenuhi tanpa benar-benar mereka sampai di kampung halaman, khususnya di hari raya yang memang menjadi momentum legal secara syar’I untuk kita berhari raya. Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda tentang kebahagiaan di hari raya : “ Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan sungguh inilah hari kegembiraan bagi kita “ (HR Bukhori).
Ketiga : Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “ yang merasakan atau mencicipi “
Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran. Bukan pula suasana kehidupan, tentulah juga mereka ingin merasakan kelezatan selera yang disajikan. Ini benar-benar sebuah realita yang tak terbantahkan. Para pemudik itu mungkin banyak yang jenuh dengan suasana perkotaan yang terlampau rumit untuk diceritakan. Kerasnya persaingan kerja dan bisnis menjadi alasan yang cukup kuat bagi pemudik untuk sesekali mengistirahatkan diri, menyempatkan untuk merasakan kembali ketenangan kampung halaman. Mereka juga ingin kembali merasakan kehangatan sapaan dari teman-teman kecil di kampungnya. Karenanya, hari-hari ini lihatlah banyak acara-acara reuni diadakan untuk menjawab keinginan untuk merasakan hal tersebut. Inilah yang juga diisyaratkan oleh Umar bin Khotob, tentang nikmatnya bertemu teman-teman lama untuk saling berbagi kebaikan. Dia berkata : ” Seandainya bukan karena tiga hal, niscaya aku ingin menghadap Allah (mati), yaitu karena Aku berjihad di jalan Allah, meletakkan keningku di tanah untuk bersujud kepada Allah, dan duduk bersama orang-orang yang memetik perkataan yang baik, sebagaimana dipetiknya buah yang ranum “.(HR Ahmad)
Akhirnya, istilah mudik dari manapun asalnya, sesungguhnya tetap bisa kita perluas dan selami maknanya dari ‘versi’ padanan kata bahasa arabnya. Mungkin banyak lagi padanan kata arab yang bisa anda semua mencarinya, kali ini saya mencukupkan dengan tiga hal di atas. Sekali lagi, note ini bukanlah tulisan ilmiah atau temuan baru di bidang bahasa dan terminologi. Ia adalah lintasan pikiran sederhana yang saya tuangkan dalam sebuah tulisan, sambil menunggu istri tercinta menyiapkan sarapan pagi (kedua) . Alhamdulillah, semoga bermanfaat dan salam optimis.
Sep
30
Mengupas kata ” Lebaran “
September 30, 2009 | Tagged lebaran | Leave a Comment
Hari kedua lebaran masih di kampung halaman. Meski ada beberapa agenda laporan yang harus di kirim ke jakarta satu dua hari ini, tetap saja tidak bisa menahan keinginan untuk kembali menulis note ringan. Semoga bisa menjadi sarana berbagi dan silaturahmi di hari fitri ini. Kali ini saya ingin menyorot seputar istilah Lebaran, meski semua juga hampir sepakat jika istilah lebaran itu aslinya dari kata Jawa yang berarti “ sudah selesai” artinya usai dari Ramadhan, maka tibalah hari raya itu. Meski demikian, saya sedikit tertarik juga untuk mengupas lebih lanjut kata “Lebaran”, apalagi jika dihubungkan dengan banyaknya fenomena dan budaya masyarakat kita dalam memeriahkannya.
Lebaran berarti “ Lebar “selesai atau usai
Sudah jelas bahwa Idul Fitri dirayakan setelah kaum muslimin selesai beribadah secara marathon di bulan Ramadhan. Karenanya, setelah usai masa ibadah yang intensif tersebut, muncul kegembiraan dari kesudahan masa tempaat tersebut. Sehingga disebut dengan “lebar” alias bubaran atau kesudahan. Kegembiran saat usai ramadhan ini adalah sesuatu yang sebenarnya telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda dalam haditsnya : ” Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka ” ( HR Bukhori & Muslim)
Lebaran juga bisa berasal dari “Laburan”
Labur dalam bahasa jawa adalah mengecat rumah dengan cat putih yang terbuat dari bahan gamping. Begitulah hakikat hari raya Idul Fitri, bukan saja secara fisik banyak rumah dipercantik dengan cat yang baru, tapi juga lebih pada esensi kita mengecat hati dengan cat putih pertanda kesucian. Ramadhan ini menjadi momentum setiap muslim untuk membersihkan hatinya melalui tempaan ibadah yang tak terkira. Karenanya, hari raya menjadi sebuah simbol putihnya hati , bersihnya diri, karena selama sebulan penuh telah ‘dilabur’ atau dicat putih oleh pemiliknya dengan puasa dan tarawih. Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan, maka akan diampuni dosa2nya yang terdahulu, dan barang siapa yang sholat malam dengan penuh iman dan pengharapan, maka akan diampuni dosa2nya yang terdahulu “ (HR Bukhori Muslim). Jadi, kita benar-benar berharap lebaran kali ini adalah Laburan yang akan membersihkan dosa kita.
Lebaran juga bisa berasal dari “ Leburan “
Lebur adalah hancur dalam bahasa Indonesia. Maka idul Fitri adalah menjadi simbol leburnya dosa-dosa di antara sesama manusia. Apalagi kita juga menikmati tradisi silaturahmi dan halal bihalal di hari fitri. Saling mengunjungi satu sama lainnya dengan niatan tulus di hati untuk meminta maaf dan keridhoan. Maka ucapan mohon maaf lahir dan batin pun terdengar di mana-mana. Hari ini ucapan maaf terasa jauh lebih ringan daripada di hari-hari yang lainnya. Itu semua karena kita benar-benar ingin total membersihkan diri kita. Setelah Ramadhan dengan paket ibadah intensifnya –insya Allah- menghapus dosa-dosa kita secara vertikal, maka Idul Fitri ini menjadi momentum tepat untuk meleburkan dosa-dosa horizontal kepada sesama. Maka maaf memaafkan menjadi tradisi yang berpahala dan mengikat ukhuwah secara lebih kuat dari sebelumnya. Sikap mudah memaafkan –bukan rahasia lagi- juga menjadi ciri orang bertakwa yang diidam-idamkan setiap mereka yang menjalani ibadah puasa. Allah SWT berfirman tentang ciri orang bertakwa : “ (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS Ali Imron 134)
Lebaran juga bisa berasal dari “ Luberan “
Kata luber berarti limpahan atau sesuatu yang berlebih hingga melimpah ke yang lainnya. Maka di hari raya idul fitri ini bisa kita saksikan bagaimana baik harta maupun manusia meluber dengan sedemikian rupa. Harta meluber dari yang kaya ke miskin melalui zakat dan sedekah yang begitu intensif di bulan ramadhan ini. Begitupula manusia meluber dari kota ke desa dan kampung-kampung mengusung momen mudik dengan niatan bersilaturahmi ke kerabat, tetangga dan teman sepermainan di kampung halaman. Begitu pula aktifitas sholat Ied di lapangan-lapangan besar dalam waktu yang bersamaan, tidak aneh juga jika disebut sebagai momentum luberan manusia yang luar bisa. Idul fitri memang adalah luberan yang berarti manusia berbondong-bondong merayakan dan mengagungkannya. Bahkan saat sholat Ied pun rasulullah SAW melibatkan wanita haidh untuk ikut menghadirinya. Salah satu wanita shahabat, Athiyyah ra berkata : Kami diperintahkan supaya keluar pada hari raya, sehingga kami mengeluarkan gadis-gadis perawan dari pingitannya dan mengeluarkan wanita-wanita haid. Mereka berada di belakang orang banyak, ikut bertakbir dan berdoa bersama yang lainnya karena mengharap berkah dan kesucian hari tersebut (HR Bukhori & Muslim ).
Lebaran juga bisa diartikan “ Liburan “
Yang terakhir tentu saja tidak terlalu asing bagi kita, dimana momentum Lebaran memang benar-benar menjadi ajang Liburan yang mengasyikkan. Bertemu bersama kerabat dan keluarga di kampung halaman, lalu menghabiskan beberapa hari dengan nuansa liburan yang menyenangkan. Lihat saja banyak objek wisata menjadi ajang bulan-bulanan para pengunjung di masa libur ini. Bukan saja wisata alam, hari ini kita juga menjadi saksi betapa wisata kuliner menjadi tujuan perjalanan yang tidak bisa disangsikan lagi. Mereka pulang ke kampung halaman, salah satunya juga untuk mengembalikan kembali selera dengan makanan khas kota tercintanya. Makanan di rumah menjadi menu sambilan, menu utama adalah keliling kota untuk menunaikan kerinduan akan selera kampung halaman. Hari raya ini benar-benar menjadi ajang makan-makan yang menguatkan ukhuwah antar keluarga. Tidak heran, fenomena ini juga telah diprediksi oleh Rasulullah SAW . beliau bersabda : Rasulullah SAW bersabda tentang hari raya : Itu adalah hari-hari (untuk) makan dan minum. (Fiqh Sunnah : I/598)
Maka lengkap sudahlah hari raya kita Idul Fitri, dengan segenap makna yang terkandung dalam kata lebaran. Akhirnya, secara khusus saya sampaikan :
Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1430 H. mohon maaf lahir dan batin .
Semoga semangat ramadhan abadi di hati , mewarnai hari-hari kita selanjutnya.
Sep
30
Halo dunia!
September 30, 2009 | | 1 Comment
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!